Jumat, 28 September 2012

Adytorial (Puisi dan Intuisi)








Bagi para pengunjung blog ini yang ingin memiliki buku Puisi dan Intuisi, silakan bisa menghubungi admin melalui WhatsApp di nomor 085794509525.


PENGUMUMAN

Segala informasi dan puisi karya Adytia beralih laman ke 
https://steemit.com/@adytianugraha

Silakan akses laman di Steemit tersebut, ya! :)



I. Preambul dari Penyair


Dulu besi kini bata, dulu benci kini cinta. Itulah karmina yang dapat mewakili kisah asmara antara sang penyair kepada puisi. Meskipun notabene pria kelahiran 15 Juni 1989 ini merupakan alumni mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, tidak lantas menjadikannya cinta akan puisi seketika itu. 

Sejak masih duduk di bangku kuliah, tepatnya pada semester satu sampai dengan tujuh, pria yang juga hobi bermusik ini bisa dikatakan tak acuh terhadap hal-hal yang berkaitan dengan sastra, khususnya puisi. Selama tujuh semester tersebut, mata kuliah yang berbau sastra dipandangnya sebagai formalitas akademik semata tanpa adanya keinginan untuk memahaminya secara mendalam dan komprehensif. Barulah di semester delapan, ia mulai terpikat akan pesona dan keelokan puisi. Di balik itu semua, skripsi menjadi sosok utama yang berperan sebagai makcomblang atas kecintaan penulis kepada puisi. Sejak skripsinya bertemakan puisi, secara tak langsung ia harus melakukan penelitian dan penelaahan mendalam terhadap puisi. Sejak itulah ia mulai tergetar hatinya untuk lebih menggauli dan mencumbui puisi. 

Dalam perjalanan hidup, setiap manusia pasti pernah mengalami suatu peristiwa yang membuat batinnya bergejolak. Hal terebut merupakan proses alamiah dinamika kehidupan, mengingat manusia—makhluk paling sempurna ciptaan Sang Kholik—dibekali dengan hati dan jiwa. Reaksi seseorang dalam mengaktualisasikan perasaannya bisa ditempuh dengan beragam cara dan tergantung pada penguasaan konsep-konsep yang dipahaminya. Manusia yang berkualitas ialah manusia yang bisa mencurahkan isi hati atau perasaannya menjadi sesuatu yang lebih bernilai dan bermakna serta bukan sekadar ungkapan “bahasa” semata.

Karya sastra, khususnya puisi, merupakan sarana alternatif untuk mengekspresikan luapan perasaan seseorang yang terjadi baik dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Hal tersebut memang telah tertuang dalam konsep teori sastra yang dikenal dengan istilah mimesis. Mimesis adalah refleksi dari suatu keadaan yang nyata sehingga pada pembahasan ini, puisi atau sajak yang telah dibuat merupakan suatu karya yang terinspirasi dan lahir dari “rahim” kejujuran. 





    Pembacaan puisi "Sajak Monolog Sang Hujan" dalam acara bertajuk Musim Semi Para Penyair di IFI Bandung. Puisi ini masuk ke dalam lima puisi kategori terbaik.




Pembacaan puisi berjudul "Kepada Sang Pengantar Ilmu" dan "Kusebut Namamu" oleh sang penyair.



Adytorial (Puisi dan Intuisi)

Bagi para pengunjung blog ini yang ingin memiliki buku Puisi dan Intuisi, silakan bisa menghubungi a...