Jumat, 28 September 2012

Gubahan Sang Raja Siang




Preambul


Dulu besi kini bata, dulu benci kini cinta. Itulah karmina yang dapat mewakili kisah asmara antara sang penulis kepada puisi. Meskipun notabene pria kelahiran 15 Juni 1989 ini merupakan alumni mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, tidak lantas menjadikannya cinta akan puisi seketika itu.



Sejak masih duduk di bangku kuliah, tepatnya pada semester satu sampai dengan tujuh, pria yang juga hobi bermusik ini bisa dikatakan tak acuh terhadap hal-hal yang berkaitan dengan sastra, khususnya puisi. Selama tujuh semester tersebut, mata kuliah yang berbau sastra dipandangnya sebagai formalitas akademik semata tanpa adanya keinginan untuk memahaminya secara mendalam dan komprehensif. Barulah di semester delapan, penulis mulai terpikat akan pesona dan keelokan puisi. Di balik itu semua, skripsi menjadi sosok utama yang berperan sebagai “Mak Comblang” atas kecintaan penulis kepada puisi. Sejak skripsinya bertemakan puisi, secara tak langsung penulis harus melakukan penelitian dan penelaahan mendalam terhadap puisi. Sejak itulah penulis mulai tergetar hatinya untuk lebih menggauli dan mencumbui puisi.
 
Berikut ini merupakan puisi-puisi karya Adytia Nugraha yang penciptaannya terinspirasi oleh realitas dan kejujuran.

1)
Pelita dalam Gulita

Ibu
Wahai kau
Ibu
Meleleh air mataku
Saat teringat hangatmu
Ibu
Merekat pekat sudah jasamu
Tak berujung tepi rasa-rasaku
Ibu
Kautoreh titik demi titik asa
Mengapus gulita oleh cahya
Ibu
Kau adalah nugraha
Kau adalah pelita
Di masa-masa senjamu kini
Kuhadiahi engkau bara api dalam puisi ini
                                              
                                                                                 (23 Maret 2012)



2)
Poeisis


Puisi adalah getaran hati
Mendikte realita yang tak memati
Menggoreskan kisah
Dalam hitam putih gelisah

                                                                                     (11 Maret 2013)




3)
Teruhuk-uhuk

Sendiri menggelatuk
Dalam sangkar aku tersuntuk
Perih lukaiku tiada bentuk

Terdiam, sepi menusuk
Uhuk, uhuk, uhuk
Dahak tiba dan berunjuk
Enyahlah kau, Batuk!

                                                                                                               (23 Mei 2013)



4)
Berdiri di Atas Mimpi

Aku akan menggenggam angin
Jika berjalan di atas air
Kuikuti jalan setapak ini
‘tuk berdiri di atas mimpi

                                                                             (1 Juni 2011)



5)

Tanahku
Terbentang elok mendera
Memanjakan pelupuk indra
Sang surya terbit malu
Berbinar-binar senyum dan pilu

Tanahku bertabur emas permata
Tanahku hijau merata
Terjaga aku dalam asa
Ciptaan Sang Maha Esa

Binatang-binatang menari riang
Seiring anganku yang panjang
Alam yang menangis sayup
Membuat asaku tak menutup

Burung nuri enggan bercanda
Menutup sebelah mata bernada
Gemulai tamak meronta-ronta
Lalai manusia bencana di depan mata

                                                                                                                 (12 Mei 2010)


6)
Cahayaku Terhina

Cahaya netraku menyuram
Curahan diksimu menikam
Saat siangku dihina malam
Cera langit pun jadi padam
Gulita angkuh mengancam
Cataku teriris menggumam
Menyulam mimpi dalam malam yang terpendam kelam
Laksana pilunya batin dihantam palu godam hitam
Aku pun bungkam menggenggam pitam
Berhentilah menyulut geram
Hemmm, hemmm!
Aku diam bukan berarti tak paham


                                                                                (10 April 2012)



7)
Sajak Untuk-Mu
hari-hari yang amat kelabu
begitu mengganggu kalbu
sungguh ini di luar ajukku
saat bara-bara pengobar api nyaris padam diguyur derasnya ragu
kini gudang intuisi pun terjebak dalam sempitnya waktu
sempat kuduga dunia ini datar sewaktu-waktu
ini memang ujian-Mu untukku
‘tuk lewati hari tanpa gerutu
dan menjadikan butiran debu menjadi emas bermutu


                                                                                             (23 April 2012)




8)
Asuh

Meski jauh
Rindu dalam menyentuh
Parasnya, kau suguh aku teduh
Aku cinta kau sungguh

Dengarlah gubahanku ini
Saat waktu bisu menyempit
Dan kau 'kan tetap abadi


                                                                                                                   (12 Juni 2013)




9)
Hapus Aku

Tak ingin aku menoreh lara
Saat kau inginkanku mendera
Hati ini bergeming tak berselera
Saat ditanyai: aku tak bersandiwara
Hapuslah aku dengan berbagai cara
Agar bayangku tak dipikiranmu, Dara

Terima kasih sejuknya udara
Yang tiada balas membara

                                                                                             (1 Juli 2012)



10)
Huh!

Tiada kira sungguh
Intuisi terperas berpeluh
Aku terjatuh
Dalam asa tiada rengkuh

Tak 'kan aku pasrah
Hingga waktu mengindah

                                                                                                                     (4 April 2013)



11)
Untuk Sang Anonim 

     Detik demi detik dicabik sepi
     Mengajuk padamu rasaku menepi

                           Hari demi hari silih berganti
                           Sabarku ini terasing mati

                                                 Walau berjalan aku sendiri
                                                 Tak ‘kan payah mencari

                                                                        Hati ini bernyanyi lirih pasti
                                                                        Hanya kaulah yang kunanti

                                                                                                             (2 September 2012)




12)
Sajak Hujan


Gerah
Saat satu topik hujan laten deras mengguyur massa
Berkeringat
Saat catar keadilan bocor akan tipisnya bahan yang digigiti sang pengerat
Jengah
Ketika sang pemegang gagang dibui oleh tindak-tanduk tamak
Terbahak
Ketika artos-artos jadi ihwal perangsang gelap mata
Menjerit
Saat ribuan jiwa terendam banjir atas dampak hujan
Iba
Saat mereka menjerit lemah dalam eloknya buwana

Mereka geram tiada tara dalam jeritan
Mereka tersisih oleh kesempitan
Mereka miskin lahir batin

Tersadar aku, tiada basah tanpa kering
Aku, kamu, dia, mereka, dan kita butuh
Kita butuh catar keadilan berbahan akhlak mulia
Agar perjalanan di musim hujan umat selamat


                                                                                                            (23 Desember 2012)



13)
Hampa Arti

Apalah arti membasuh diri
Kala jalan berlumpur tak dihindari
Dan ruang kecil tak bertepi tetap berduri

Apalah arti elok kemasan
Kala kemunafikan bertahan
Dan tindak-tanduk jauh dari Tuhan

Astaghfirullah…


                                                                                                            (26 Agustus 2012)



14)
Jauh Berlari 

Pahamilah bisu ini yang memaku
Terhibuk aku dingin membeku
Tak tersentuh hangatnya dekap
Karena kita berbeda dalam tatap

Kautawarkan lembutnya lima jemari
‘tuk mengisi empat ruang hampaku kemari
Aku diam kau keras membatu menyadari
Berhentilah: aku hanya ingin jauh berlari

                                                                                                                 (3 Juli 2012)




15)
Di Setiabudi

Berjalan kita di kelam malam
Deraian rintik hujan menghujam
Laksana tiada angin memaksa
Dingin pun tunduk pada hangat terasa

Berpayung jaket, cinta hadir tanpa bahasa
Kita merasa ada indahnya rasa dalam asa
Senyummu katakan: aku memilihmu
Kudekap dirimu hingga hujan pun cemburu

                                                                                                         (10 Oktober 2012)




16)
Gramedara

Terbalut kain merah muda kulit sutramu
Masih terekam pasti di netraku
Di antara kasir, ribuan judul, dan tumpukan beku buku
Elokmu mengganggu di siang minggu

Wahai kau anonim, ingin aku menyentuh binarmu

Bahasa bisumu bisikkan: mendekatlah!
Sayang seribu sayang, sahabatmu buat aku patah
Aku terkaku tuk melangkah
Kalbu pun goyah

Berakhirlah hari dalam gundah

                                                                                                         (8 Desember 2012)


                          
17)
Adalah

Selamat malam pise kalise
Sunyimu kini memelukku erat
Tanpa gaduh aku mengerang
Tak tersentuh hangat dalam rinai hujan

Menjauhi resah susah gelisah
Adalah mencari ‘kan hilang berpisah

                                                                                                         (12 Januari 2012)




18)

Benalu

Saat tubuh dipeluk erat flu
Letih payah  memilu
Ia tak kunjung berlalu
Mampuku hanya bersarang melulu

Aku bugar lalai
Aku lunglai

Tiada undang tiada pandang
Ini siang
Ia buat aku terlentang

                                                                                                            (17 Februari 2013)



19)

Bermonolog

Senja membuka gulita

Dalam desir pelik
Aku mendesahkan asma-Mu
Turunkanlah seekor kunang-kunang
Berhijab jelita
Dari surga

                                                                                                                (14 Maret 2013)



20)
Untukmu yang Beringus


kau adalah anak ingusan
               gemar kentut dalam tulisan
                                dunia memaya kau nudis batasan
               berajuk raup sejuta perhatian
fonemmu gaduhkan netraku

                                                                                                              (22 Maret 2013) 

                                                                                               
21)
Keluh Embun

Kami adalah embun
Menggenangi intuisi dedaun
Dieksploitasi oleh mata yang rabun
Dihonori jauh dari rimba rimbun

Meski kemarau dan pilu turun
Kami ‘kan basah beralun

Rasakan sejukmi
Untuk kaupahami

Atas nama pendidikan
Dan sabda Tuhan
Kami sejuk bertahan


                                                                                                             (1 Mei 2013)


22)
Lupa Tiada

Ini saat lupa tiada
Dedaun berguguran
Sedih berpecahan
Hawa ini yang telah lama kudamba

Semoga abadi indah memelangi kita
Aamiin

                                                                                                              (22 Juni 2013)


23)
Bohemian

Berjalan aku membawa diksi lepas
Pelikku bertanya tanda tak bebas
Cerebrumku tiada mati hingga tuntas
Laksana dibebani kapas

Segalanya tertumpah di kertas
Menyebut-Nya aku bernapas
Sejuk dijauhkan panas

                                                                                                              (28 Juni 2013)


24)

Su dalam Dah

Kutelan lalu kukunyah kini

Aku memaham
Dari patahan yang memuing
Merekat sudah
Di tapal langkah

                                                                                                              (1 Juli 2013)

25)


Bulan Kerinduan

Ini bulan kumengikat indra
Kalbu terjaga dalam cahya-Nya

Suci kuteguk. Sejuk mereguk
Ramadhan memetafor peputih

Di sisa napas dan rasa
Kuseka bebintik dosa
Agar hilang cemar
Di titian waktu lalu

                                                                                                                 (3 Juli 2013)

26)
(Tak Berjudul)


Untukmu yang terindah
Kutulis gubahan ini dalam gundah

Rindu memilu tiada bertumpu

Mati suri segala
Mati rasa serasa
Kau dan aku
Disekat waktu yang memaku


                                                                                                                   (12 Juli 2013)

27) 

Takkan Anjak Berangkat 
 
Akan kunanti dirimu dalam empat purnama
Saat itu, gulita malam bertubi menyayat
Namun rinduku padamu takkan anjak berangkat
Aku takkan lelah goyah
Aku takkan kalah patah!

                                                                                                                 (3 Agustus 2013)

28)
Getar Kalbu

Aku berlalang dalam diam
Berseruan dalam bungkam
Oh!

Getar kalbu membelai jiwa
Melayang
Tenang

Jumat memekat nian mesra
Antara aku dengan-Nya

(Pusdai, 23 Agustus 2013)


29)

 Memadat

Mari santap lelap
Esok padat 'kan kulahap

Saat hari masih buta
Percik dinginan air
Bikin semangat deras mengalir

Aku menjadi karang
Yang pantang dilelehkan
Mengokoh
Tanpa pongah


(30 Agustus 2013)

30)

Malam di Dipati Ukur

Hampa bersorak sorai
Sendiri kutelan sepi berderai
Riuh ramai terasa berdawai
Hangat mengasing; penuh kuharap andai
Tanpa belai
Kaulah candu yang selalu kusemai

(September 2013)



31) 
Sujud

Yaa Rahman
Dekap aku hingga perih hilang jua
Air mata ini
Tiba dan tiba meleleh dalam sajadah yang bungkam
Ikatan ini terlalu rekat untuk kulumat

                                                                                                                                 (11 Oktober 2013) 



32)
Insomturno

Mengapa kau bertanya
Pada air mata yang menyapa
Sementara aku berada
Di sampingmu yang tiada

Ini bukan soal sekat
Kita 'kan bisa berjalan
Luluhkan malam yang pekat
Jika sang tari cerah bermandikan

                                                                                                                       (1 November 2013)



33)
 Adakah?

Yang dulu ada
Kini tak ada
Yang kini ada
Dulu tak ada
Apakah aku ada?
Saat hangatku tak ada
Tahukah bahwa kau ada?
Saat hangatmu tak lagi ada


                                                                                                                        (16 November 2013)

34) 
Menghempas Paradoks

Malam menepikan hampa
Beku luapan asa mengait paras
Waktu menyela rasa yang tiada
Sunyi memaksaku tuk melangkah
"Baiklah," tandasku
Aku dan dia masih tersekat
Di antara ilalang dan cahya-Nya


(Dipati Ukur, 22 Januari 2014)


35)

Dialogues

Ini dingin malam
Secangkir teh dalam genggam
Mengajakku berdialog
"Mengapa kau menyepi?" tanyanya.
"Kau takkan paham caraku mereguk hidup," singkatku.
"Lalu kenapa tak kautenggak saja hidupmu?" balasnya.
"Tidak. Bagiku mereguk lebih indah meski nanar menerpa," tegasku.
Dingin makin menusuk
Kututup cangkir yang telah kosong itu
Dengan satu kalimat
Alhamdulillah

(6 Februari 2014)


36)


Sajak Tukang Tambal Ban

Seorang tua yang terdekap malam
Berteman dengan sebatang kretek

Ia sulut urat jadi recehan
Ia bakar kantuknya yang lugu

Ia ajari aku menyeka peluh
Dalam asa yang kental
Ia menyelia paradoks yang kelu
Sungguh oh sungguh
Ia tambal bebolong sukmaku

                                                                                                         
                                                                                                                  (Sukaraja, 24 Maret 2014)

37)


Sajak Lidi yang Bersepaian

seiring potret kehidupan yang lugu menyembul
para peleter bersungut dalam kehampaan mujarad
laksana kanvas tanpa guratan
mereka gemar umbar gambar hambar

aku melihat mentari yang tak menyinari
aku merasa sepoi angin tak goyahkan dedaun

kita tak harus menelaah asal-usul wastafel bermerek asing
yang kita butuh adalah bagaimana mengikat lidi yang berserakan



(Sukaraja, 25 Mei 2014)

38)

                                                                 Puisi untuk Aluih

Percakapan para bintang terdengar mendesir
Begitu jelas di telingaku
Memecah sendu di atas kelam
Sebuah hati yang kini ada
Semaikan warna pelangi
Dalam kisah hidupku


(12 Juni 2014)

39)

                                                               Doa Seorang Bohemian


Kudekap pena dalam jari
pahitnya realita negeri memuntahkan seisi intuisi
bercak-bercak tinta yang ada lelehkan harapan
menggores secarik kertas yang masih perawan
Di bibir pena yang kelu 
kugubah sosok pemimpin yang berbadan tegap 
tatkala berjalan, ia takkan berpaling meski sekejap 
meski lumuran-lumuran peluh hinggap 
ia seka sendu seluruh pilu
Wahai sang pemimpin, di telunjukmu
di bahumu
di kerut-kerut dahimu
kuajuk berjuta asa dan doaku ‘kan berseru
menggendong hari-hari cerah indah yang baru
dan tak tersentuh oleh peliknya haru biru

Aamiin yaa robbal’alamiin.

(6 Juli 2014)


40)


Sajak Hitamku


malam yang tengah mandi warna, hempaskan khilaf setiap insan dalam dengung takbir di telingaku
hapuslah hitamku di setiap hela napas yang telah hilang dalam lalu
akan kurajut kembali setiap dinding hati yang telah robek disayat diksi dan aksi
selamat hari raya idul fitri. mohon maaf lahir dan batin

                                                                                                                        (27 Juli 2014)

a. Ihwal Puisi 

Puisi merupakan bentuk kesusastraan yang paling tua. Sejak kelahirannya, puisi telah menjelma sebagai suatu karya yang dapat dinikmati melalui penggunaan bahasa yang unik, khas, dan indah sebagai medianya.
Untuk dapat mengapresiasi sebuah puisi dengan baik, dibutuhkan suatu pemahaman guna meluruskan pandangan terhadap beragamnya pengertian puisi. Banyak para sastrawan yang telah mendefinisikan puisi, namun sampai saat ini belum ada satu definisi yang baku. Hal ini terjadi karena perubahan yang selalu terjadi dalam sejarah perkembangan puisi itu sendiri. 

b. Pengertian Puisi

Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani yaitu poeima “membuat” atau poeisis “pembuatan”. Dalam bahasa Inggris, puisi disebut dengan poem atau poetry. Aminuddin (2004: 134), menjelaskan puisi sebagai kegiatan “membuat” dan “pembuatan” karena melalui puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang berisi pesan atau gambaran mengenai suatu hal yang ada dalam pikirannya. Pengertian puisi bagi penulis sendiri ialah alat pendikte realitas dalam perspektif kejujuran dalam hitam putih gelisah.

Dewasa ini banyak sekali pendapat yang memberikan batasan tentang definisi puisi. Batasan-batasan tersebut biasanya hanya berkaitan dengan struktur fisiknya saja atau struktur batinnya saja, namun ada juga pendapat yang memberikan batasan yang mencakup kedua struktur tersebut. Terlepas dari beragamnya definisi yang ada, puisi tetap menjelma sebagai salah satu karya sastra yang indah dan unik untuk diapresiasi.
Dengan mengutip pendapat Mc Caulay, Hudson dalam Aminuddin (2004: 134), mengungkapkan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi. Waluyo (1995: 29), menyatakan “puisi adalah salah satu bentuk kesusasteraan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa yakni dengan mengkonsentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya“. Sedangkan James Reeves dalam Waluyo (1995: 23), menyatakan “puisi adalah ekspresi bahasa yang kaya dan penuh daya pikat”.

Dari sejumlah definisi di atas, dapat disimpulkan secara umum bahwa puisi adalah salah satu jenis dari karya sastra yang mengekspresikan imajinasi dan buah pikiran sang penyair yang ditransformasikan ke dalam wujud bahasa bernilai estetis dengan memanfaatkan unsur fisik dan batinnya.

c. Jenis-jenis Puisi 

Bila ditinjau dari bentuk maupun isinya, ragam puisi terbagi ke dalam beberapa jenis. Aminuddin (2004: 134), mengemukakan jenis-jenis tersebut antara lain sebagai berikut.
  1. Puisi Epik, yakni suatu puisi yang di dalamnya mengandung cerita kepahlawanan, baik kepahlawanan yang berhubungan dengan legenda, kepercayaan, maupun sejarah.
  2. Puisi Naratif, yakni puisi yang di dalamnya mengandung suatu cerita, dengan pelaku, perwatakan, setting, maupun rangkaian peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita.
  3. Puisi Lirik, yakni puisi yang berisi luapan batin individual penyairnya dengan segala macam endapan pengalaman, sikap, maupun suasana batin yang melingkupinya.
  4. Puisi Dramatik, yakni salah satu jenis puisi yang secara objektif menggambarkan perilaku seseorang, baik lewat lakuan, dialog, maupun monolog sehingga mengandung suatu gambaran kisah tertentu.
  5. Puisi Didaktif, yakni puisi yang mengandung nilai-nilai kependidikan yang umumnya tertampil eksplisit.
  6. Puisi Satirik, yaitu puisi yang mengandung sindiran atau kritik tentang kepincangan atau ketidakberesan kehidupan suatu kelompok maupun suatu masyarakat.
  7. Romance, yakni puisi yang berisi luapan rasa cinta seseorang terhadap sang kekasih. 
  8. Elegi, yakni puisi ratapan yang mengungkapkan rasa pedih seseorang.
  9. Ode, yaitu puisi yang berisi pujian terhadap seseorang yang memiliki jasa ataupun sikap kepahlawanan.
  10. Himne, yaitu puisi yang berisi pujian kepada Tuhan maupun ungkapan rasa cinta terhadap bangsa ataupun tanah air.

d. Unsur-Unsur Puisi

Richards dalam Siswanto (2008: 113), mengemukakan bahwa unsur-unsur puisi meliputi struktur fisik puisi (metode puisi) dan struktur batin puisi (hakikat puisi). Untuk lebih jelasnya akan dikemukakan sebagai berikut.
A. Struktur Fisik Puisi (Metode Puisi)
1) Perwajahan Puisi (Tipografi)
Tipografi adalah pengaturan dan penulisan kata, larik, dan bait dalam puisi. Pada puisi konvensional, kata-kata atau diksi diatur dalam deret yang disebut larik atau baris. Kumpulan pernyataan dalam puisi tidak membentuk paragraf tetapi membentuk apa yang disebut dengan bait.

2) Diksi
Diksi adalah pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Pemilihan kata dalam puisi berhubungan erat dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Selain itu, pemilihan kata berhubungan erat dengan latar belakang penyair. Semakin luas wawasan penyair, maka akan semakin kaya dan berbobot kata-kata yang dipilih.

3) Imaji
Imaji adalah kata atau kelompok kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu: (1) imaji suara (auditif); (2) imaji penglihatan (visual); dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti yang dialami oleh penyair. Imaji berkaitan erat dengan kata konkret.

4) Kata Konkret
Kata konkret adalah kata-kata yang dapat ditangkap dengan indra. Dengan hadirnya kata konkret akan memungkinkan pemunculan imaji.

5) Bahasa Figuratif (Majas)
Menurut Waluyo (1995: 83), bahasa figuratif ialah bahasa yang digunakan penyair untuk menyatakan sesuatu dengan secara tidak langsung mengungkapkan makna yang dimaksud. Majas adalah bahasa berkias yang dapat menghidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Majas yang biasa digunakan dalam menulis puisi yaitu majas simile, metafora, personifikasi, hiperbola, litotes, ironi, metonimia, sinekdoke, eufemisme, repetisi, pleonasme, dan alegori.

6) Versifikasi (Rima, Ritme, Metrum)
            Versifikasi dalam puisi terdiri atas rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, maupun baris akhir puisi. Rima mencakup onomatope (tiruan bunyi), bentuk intern pola bunyi, dan pengulangan kata atau ungkapan. Ritme merupakan tinggi-rendah, panjang pendek, atau keras lemah bunyi. Ritme sangat menonjol bila puisi itu dibacakan. Ada ahli yang menyamakan ritma dengan metrum. Dalam deklamasi, biasanya puisi diberi (‘) pada suku kata bertekanan keras, dan (u) di atas suku kata yang bertekanan lemah.
            Dari variasi keras-lemah tersebut, secara garis besar dapat dibedakan atas empat metrum. Jambe adalah tekanan bervariasi; ada yang diberi tekanan dan ada yang tidak. Pada tracheas tekanan keras terdapat pada suku pertama. Pada daktylus tekanan terdapat pada awal baris, dan selanjutnya diseling dua suku kata tidak bertekanan. Pada anapest tekanan dimulai pada suku kata ketiga dan pada awal kata tidak bertekanan (Waluyo, 1987: 96).


B. Struktur Batin Puisi (Hakikat Puisi)
1) Tema atau makna
Tema adalah gagasan pokok (subject-matter) yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya. Pokok persoalan atau pokok pikiran itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya.

2) Amanat atau tujuan
Amanat, pesan, atau nasehat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca puisi. Penyair mengungkapkan solusi atau alternatif jawaban sebagai pemecahan terhadap tema yang disajikannya. Pesan-pesan tersebut dihadirkan dalam ungkapan yang tersembunyi. Di sinilah kelebihan seorang penyair, ia menyampaikan pesan-pesan itu melalui ungkapan yang sangat halus sehingga menimbulkan kesan tidak menggurui, vulgar, atau pun sok tahu.

3) Rasa (Feeling)
Rasa dalam puisi adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa berkaitan erat dengan latar belakang sosial dan psikologis penyair. Misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, serta pengetahuan.

4) Nada
Nada dalam puisi adalah sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Ada penyair yang dalam menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca.

e. Langkah-langkah Menulis Puisi
Menurut Mulyana (1997: 20-27), langkah-langkah untuk menulis puisi yaitu sebagai berikut.

1. Mendeskripsikan objek konkret secara emotif
Penulis dapat mendeskripsikan objek konkret yang berhubungan dengan pengalaman indrawi. Bahasa yang digunakan penulis dibangun dengan menggunakan bahasa yang bersifat emotif. Contohnya, ketika tengadah ke atas langit pada malam hari, seseorang takjub pada ribuan bintang yang bertebaran di atas langit.
2. Menguraikan nama diri
Nama adalah identitas pokok diri kita. Manusia dapat saling menyapa karena memilki nama. Kepedulian terhadap nama diri dapat dimanfaatkan untuk belajar menulis puisi. Caranya, yaitu dengan menderetkan nama kita secara vertikal. Kemudian, kembangkanlah imajinasi dan kreativitas Anda untuk melanjutkan setiap inisial atau huruf awal tersebut.
3. Menulis puisi berdasarkan tokoh dalam sejarah, mitologi, atau karya sastra
Karya sastra, yang mencakup cerpen, novel/roman, drama, atau puisi yang telah kita abaca, dapat dijadikan media dalam belajar menulis puisi. Apabila Anda menyenangi tokoh tertentu dalam sebuah novel, Anda dapat saja menulis puisi berdasarkan karakter atau watak tokoh tersebut. Selain karya sastra, tokoh dalam sejarah, wayang, atau mitologi dapat kita jadikan bahan untuk menulis puisi.
4. Mengkonkretkan puisi dengan bantuan gambar
Terkadang, seseorang yang memiliki bakat lebih dari satu seni tidak akan pernah puas ketika ia menulis sebuah karya seni. Ada sejumlah penyair yang mengkonkretkan puisi dengan tambahan gambar atau membentuk tipografi puisinya sesuai keinginannya sendiri. Apabila kita belajar menulis puisi konkret tentu tujuan pertama bukanlah untuk membuat pembaruan, namun berusaha merangsang dan mengembangkan imajinasi kita.
5. Menulis puisi berdasarkan pengalaman diri
Kita mungkin sering mendengar kata-kata, “Orang dapat menulis puisi ketika sedang jatuh cinta”, atau “Kesedihan akan berkurang apabila dituangkan melalui puisi”. Kata-kata tersebut, meskipun belum tentu menghasilkan puisi yang bermutu dari segi estetik, dapat Anda manfaatkan sebagai bahan berlatih dalam menulis puisi. Terlebih lagi, manusia sebagai makhluk hidup tidak luput dari pengalaman, baik yang menyedihkan atau membahagiakan.

f. Manfaat Mengapresiasi Puisi
Aminuddin (2004: 60-62), memaparkan mengenai manfaat mengapresiasi sastra baik itu puisi maupun karya fiksi seperti sebagai berikut.
1.      Dapat menambah pengetahuan mengenai kosakata suatu bahasa.
2.      Dapat mengetahui pola kehidupan suatu masyarakat.
3.      Dapat dijadikan sarana dalam berbagi wawasan mengenai sastra.
4.      Memperoleh hiburan pada saat membaca puisi atau karya fiksi.
5.      Memberikan informasi yang berhubungan dengan pemerolehan nilai-nilai kehidupan.
6.      Memperkaya pandangan atau wawasan kehidupan sebagai salah satu unsur yang berhubungan dengan pemberian arti maupun peningkatan nilai kehidupan manusia.

g. Problematik Karya Sastra di Indonesia
Menurut Taufik Ismail dalam Komariah (2011: 11) menyatakan bahwa generasi muda Indonesia buta membaca dan lumpuh menulis. Menurutnya, siswa kita di sekolah tidak satu pun dibekali dengan kewajiban untuk membaca karya sastra. Berbeda dengan siswa di Amerika Serikat yang harus membaca 32 judul karya sastra. Malaysia dan Brunei saja mewajibkan siswanya membaca 6 karya sastra selama ia duduk di bangku sekolah.


Daftar Pustaka
Aftarudin, Pesu.1984. Pengantar Apresiasi Puisi. Bandung: Angkasa.
Aminuddin.2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Komariah, Y. (2011). “Penggunaan Media Audio Visual Bertema Nasionalisme untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi (Penelitian Tindakan Kelas terhadap Siswa Kelas VIII-A SMP Labschool UPI Bandung Tahun Ajaran 2010/2011)”. [Online]. Tersedia: http://repository.upi.edu/skripsiview.php?no_skrip [20 Maret 2012].
Mulyana, Y. et al.1997. Sanggar Sastra. Jakarta: Depdikbud.
Siswanto, W.2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo.
Waluyo, J.W.1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.